Cool Blue Outer Glow Pointer

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

Monday, November 8, 2010

151 Penghuni LP Narkotika Pakem Diungsikan di Lapas Yogyakarta

Jakarta
Letusan Gunung Merapi yang tiada henti mengakibatkan sekitar 151 narapidana narkotika yang terletak di Kecamatan Pakem, Sleman, diungsikan ke Lapas dan Rutan Yogyakarta. Mereka diungsikan sejak seminggu yang lalu.

"Betul, saya ungsikan seminggu yang lalu. Saya memang melakukan tindakan preventif. Kalau sekarang pasti terlambat," kata Kepala Divisi Lembaga Pemasyarakatan Kanwil DIY, Kristiadi, saat dihubungi detikcom, Jumat (5/11/2010).

Sementara, para karyawan LP Narkotika Pakem yang jumlahnya sekitar 75 orang, mulai hari ini juga tidak dipekerjakan di LP Pakem. Mereka diperbantukan ke Lapas Wirogunan dan Rutan Yogyakarta.

"Pegawai semua di-BKO-kan ke Lapas Wirogunan dan Rutan Jogja. Jadi saat ini LP Pakem kosong. Kemarin mereka masih aktif, tapi mulai hari ini semua turun karena sudah gawat," imbuhnya.

Jarak LP Narkotika Pakem ini jaraknya dengan puncak Gunung Merapi sekitar 12-13 kilometer. Kondisi LP tersebut saat ini berwarna putih tertutup abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi.

"Kemarin saya datang ke sana. Kondisinya tertutup debu Merapi," ujarnya.

Sementara, untuk Lapas Sleman hingga saat ini masih belum diungsikan karena menurut Kristiadi kondisinya masih belum membahayakan.

"Yang belum saya ungsikan di Lapas Sleman. Di sana jaraknya dengan puncak Merapi 20-an kilo lebih, jadi masih aman. Kalau di Pakem 12-13 kilometer," katanya.

Dia belum bisa memastikan sampai kapan para penghuni LP Narkotika Pakem akan dibawa lagi ke tempat semula. Semuanya tergantung kondisi Gunung Merapi. "Kan tidak bisa diprediksi sampai kapan," tutupnya.

sumber: detiknews.com, Jumat, 05/11/2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Sunday, November 7, 2010

Dari Tempat Buangan Napi Jadi Destinasi Indah

Lombok
Siapa sangka tempat buangan sampah masyarakat jaman kerajaan di Mataram ini menjelma sebagai tempat wisata yang dirindukan banyak turis. Adalah Gili Trawangan dahulunya sebagai lokasi penampungan narapidana ketika penjaranya penuh. Berdasarkan catatan sejarah, ada 350 narapidana berbagai kasus kriminal yang dibuang ke sana.

Baru sekitar 1970-an pulau ini dikunjungi penduduk dari Sulawesi yang kemudian menetap. ''Kami baru membuka kawasan ini menjadi daerah wisata sejak 80-an. Sebelumnya kalau ada bule yang datang ke sini, dikejar-kejar warga karena disangka penjajah yang ingin kembali berkuasa di Indonesia,'' kata Harun, penduduk lokal yang bekerja sebagai staf di Lumbung Cottage tempat saya menginap.

Sewaktu perang dunia kedua, lanjut Harun, pulau ini juga dijadikan tempat pertahanan Jepang agar pasukan sekutu tidak bisa leluasa masuk. ''Di atas bukit, ada gua-gua yang dibangun oleh Jepang,'' katanya.

Saat ini Gili Trawangan setiap bulannya dikunjungi oleh 9.000 wisatawan mancanegara dan 12.000 wisatawan nusantara.

Maka dari itu, ada wacana dari Pemerintah Kabupaten Lombok Utara untuk membuat kawasan ini seperti di Pulau Sentosa, Singapura, dan pegunungan di Belanda dengan membuat kereta gantung sebagai jembatan udara menghubungan kawasan wisata alam Puncak Pusuk dengan ketiga gili. Untuk investasi fasilitas tersebut, sudah ditawarkan kepada pengusaha asal Jerman dan Qatar.

Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata dan Komunikasi Informasi KLU Eko Suranto mengatakan, jalur ketera gantung Pusuk – Pemenang – Bangsal – Gili Air – Gili Meno – Gili Trawangan membutuhkan sembilan stasiun. Dari Pusuk ke Pemenang jaraknya tujuh kilometer, Pemenang – Bangsal satu kilometer, dan Bangsal – Gili Trawangan jarak lautnya lima mil.

Bukan cuma itu, pemerintah daerah juga mengajukan investasi fasilitas hotel terapung yang dilengkapi transportasi udara menggunakan pesawat ampibi.

Pemerintah daerah percaya investasi itu dapat menambah daya tarik berkunjung ke sana. Penawaran terbuka secara resmi telah dilakukan pada penyelenggaraan Tourism Indonesia Mart (TIME) atau pasar wisata Indonesia 2010 yang berlangsung 15 Oktober lalu di Gili Trawangan dan kawasan wisata Senggigi yang dihadiri Menteri Kebudayaan dan Parawisata Jero Wacik.

Beberapa pengusaha wisata lokal saat ditemui mengaku senang atas penawaran investasi itu. Namun mereka meminta agar investasi itu diatur sehingga tidak mengurangi pendapatan pengusaha transportasi perahu, dan merusak lingkungan di kawasan ketiga gili yang sangat indah itu.

sumber: mediaindonesia.com, Minggu, 07 November 2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Kemenkumham Bantah Aniaya Informan SIGI

Jakarta
Kementerian Hukum dan HAM membantah telah terjadi penganiayaan terhadap dua warga binaan atau tahanan di Rumah Tahanan Salemba Jalan Percetakan Negara II, Jakarta.

"Tidak benar telah terjadi penganiayaan terhadap dua warga binaan, bahkan sampai mengakibatkan keduanya harus menjalani perawatan di RS Polri Kramatjati," kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Bambang Krisbanu.

Membuktikan kebenaran pernyataannya itu, Bambang dalam pembicaraannya di hadapan wartawan, juga menghadirkan HK (22) dan HY (35), dua warga binaan kasus narkoba yang sebelumnya diberitakan dianiaya, setelah jadi informan di acara SIGI bertajuk "Bisnis Seks Dibalik Jeruji".

HK dan HY saat diperintahkan wartawan untuk membuka baju tanpa ragu menyanggupi perintah tersebut. Benar saja tidak terlihat ada bekas luka penganiayaan ditubuh kedua warga binaan kasus narkoba itu.

Lebih jauh dikatakan Bambang, bantahan ini diberitakan, bukan untuk memperpanjang polemik pasca tayangan televisi dan pemberitaan diberapa media. Tapi demi meluruskan berita yang telah terlanjur beredar di masyarakat.

"Ini hak jawab kami, atas pemberitaan tersebut. Terlebih berita tersebut juga belum dilengkapi dengan keterangan pihak rumah tahanan bersangkutan," tambah Bambang.

HK, menjelaskan tayangan televisi swasta Rabu (27/10) tersebut telah membuat dirinya terguncang, bahkan sampai mengakibatkan tindakan nekad melakukan bunuh diri di kamar mandi pada hari Jumat (29/10).

"Beruntung kondisi saya yang telah tidak sadarkan diri itu cepat diketahui petugas rumah tahanan, dan nyawa saya berhasil diselamatkan," ungkap HK yang jadi warga binaan sejak satu tahun lalu.

sumber: berita8.com, Minggu, 07/11/2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Thursday, November 4, 2010

Denda Tinggi Pengganti Hukuman Penjara Bagi Pecandu Narkoba

Jakarta
Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Sutarman, menilai perlu adanya aturan hukum baru untuk pemakai dan pengedar narkoba agar jera, mengingat hukuman yang diterapkan saat ini dianggap tidak efektif dan membuat jera para pengedar.

"Akan dibuat aturan baru bagi pengguna dan pengedar. Hukuman berat sudah banyak termasuk hukuman mati tapi tidak bisa menjadi efek jera. Masih ada saja laboratorium clandestain (lab narkoba)," ujar Sutarman dalam sambutan di rapat koordinasi Criminal Justice System, Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 4 November 2010.

Menurutnya, langkah yang tepat untuk menurunkan angka penggunaan dan peredaran narkoba dengan membebankan denda tinggi bagi para pelaku. Denda itu akan digunakan untuk pengarahan bagi masyarakat.

"Kasih denda semahal-mahalnya. Ini sederhana, mudah, tidak perlu infrastruktur. Tapi harus ubah pasal. Ini usulan yang nantinya bisa ditindaklanjuti," ujar Sutarman.

Nantinya denda tersebut akan digunakan untuk pengarahan terhadap masyarakat.

Usulan ini terkait tingginya persentase jumlah tahanan kasus narkoba di sejumlah lapas yang tentu saja memberatkan anggaran negara.

Dari data yang ada, penghuni lapas sekitar 60 persen penghuninya adalah pengguna dan pengedar narkoba. Hal ini kemudian menjadi beban negara dan harus segera diubah.

"Ini makin mempersulit negara. Dan kalau kami menyediakan tempat rehabilitasi dan lainnya, itu tidak akan menguntungkan. Malah justru merugikan negara," ujar Sutarman.

sumber: vivanews.com, Kamis, 4 November 2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Inisiatif Suap di Lapas Didominasi Pengunjung

Jakarta
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Untung Sugiyono mengatakan lebih dari 80% inisiatif suap yang terjadi di lembaga pemasyarakatan datang dari pengunjung.

"Perlu diketahui pungli di lapas, hasil survei KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) tahun 2009, inisiatif suap katakanlah itu, 80% lebih muncul dari pengunjung," kata Untung ketika ditemui di kantornya, Selasa (2/11).

Ia mengatakan, upaya untuk membersihkan praktek pungli dan suap di lapas dan rumah tahanan (rutan) dimulai di bagian kunjungan. Kini, kata Untung, pengunjung diminta mengisi data mengenai siapa yang akan dikunjungi dan diberikan nomor antrean. "Jadi yang datang duluan pasti akan dilayani duluan," kata Untung.

Proses penggeledahan juga dipercepat untuk mencegah penumpukan pengunjung. "Dari prosedurnya kita benahi, simpul-simpul yang kemungkinan terdapat pungli, itu juga kita awasi," ungkapnya

Hasil pengamatan Media di Rutan Salemba Rabu (3/11) siang, memang menunjukkan terdapat sistem antrean yang teratur. Pengunjung mendatangi loket dan diminta mengisi formulir serta mendapatkan nomor antrean. Petugas akan memanggil lima nomor antrean sekali waktu. Tiga pengunjung yang ditemui mengaku tidak dimintai uang oleh petugas. "Tidak ada," kata seorang perempuan yang akan menjenguk sang suami yang ditahan.

Tentu apa yang terlihat di Rutan Salemba tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai ratusan lapas/rutan lainnya di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Itu bisa dilihat dari hasil survei integritas sektor publik yang diadakan KPK dari tahun ke tahun. Seperti yang dikatakan Untung, nilai yang diperoleh Kementerian Hukum dan HAM pernah mencapai di atas 6 ketika sampel yang diambil hanya di wilayah DKI Jakarta. Namun, hasil survei tahun ini menunjukkan, Kemenkumham hanya memperoleh nilai 5,34. Untung mengatakan untuk tahun ini, KPK mengambil sampel dari 22 tempat termasuk dari beberapa wilayah di luar DKI Jakarta.

sumber: mediaindonesia.com, Kamis, 04 November 2010

BACA SELENGKAPNYA......................