Cool Blue Outer Glow Pointer

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Thursday, June 2, 2011

Mantan Napi Lp Magelang Jadi Ahli Terapi

ilustrasi
Magelang
Hitam amat susah untuk dijadikan putih dan putih amat mudah dijadikan hitam, itulah sebagian kata-kata yang ditulis dalam buku harian Ito, salah seorang mantan narapidana (napi) Lapas kelas II Magelang yang saat ini sedang berusaha membangun kepercayaan dirinya di tengah-tengah masyarakat.

Ito yang dilahirkan di satu dusun kecil di pinggir kota Magelang bagian utara tersebut, hanya ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa tidak semua mantan napi selamanya memiliki perilaku yang buruk. Ketika ditemui tubasmedia.com baru-baru ini, Ito mengatakan, “Saya sangat prihatin melihat teman-teman saya yang baru saja terbebas dari lapas, mereka selalu mengeluh dan bingung mencari suatu pekerjaan karena masih banyaknya orang yang memandang sebelah mata atau bahkan tidak jarang masyarakat berusaha menjauhinya.”

“Padahal, di dalam penjara bisa dijadikan sebagai ajang untuk introspeksi dengan apa yang dilakukan, dan tidak jarang di saat menjelang bebas justru rasa kebingungan yang dirasakan. Semuanya karena beban mental yang harus kami terima. Maka dari itu saya punya keinginan untuk merekrut teman-teman yang benar-benar sudah tobat untuk mencari jalan keluar agar kami tidak dipandang remeh lagi oleh masyarakat,” jelasnya.

Ito menambahkan, sebagai orang yang pernah melakukan kesalahan, ia hanya bisa pasrah, tetapi harus tetap semangat dan bisa membuktikan apa yang menjadi harapan mereka dan teman-teman.

“Saya masih ingat betul dengan pesan Bapak Toga Efendi Hutahaean SH MH MM, Kalapas kelas dua Magelang, yang mengatakan, kamu sudah bebas jangan sampai kamu kembali ke sini lagi. Kamu harus bisa berkarya di luar sana. Pesan itu yang sampai saat ini menjadi motivasi untuk hidup saya,” katanya.

Sekarang Ito semakin yakin dengan apa yang dia lakukan, dan kepercayaan dirinya pun semakin ada dengan menjadi seorang ahli terapi. Ketika Ito menangani salah satu pasiennya yang mengalami patah tulang, dengan cekatan dilakukan dengan penuh semangat dan keakraban antara terapis dan pasienya.

Kini Ito pun sudah banyak dikenal di daerah Magelang, Temanggung, bahkan sampai Kudus, Jepara dan Jakarta dengan berbagai macam keluhan dan problem yang di alaminya.

sumber: tubasmedia.com, Kamis, 2 Juni 2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Thursday, May 5, 2011

Dewi Penyuluhan Hukum

Susy Susilawati - Kepala Pusat Penyuluhan Hukum, BPHN
Sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Hukum, Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Susy Susilawati punya cita-cita agar setiap desa dapat menjadi desa sadar hukum. Apalagi, program desa sadar hukum menjadi primadona Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Wanita kelahiran Garut tahun 1960 ini dikenal aktif mendorong para kepala daerah untuk mengembangkan dan membina desa-desa agar menjadi desa sadar hukum. Bagi kepala daerah yang berjasa mengembangkan desa sadar hukum, Kemenkumham memberikan penghargaan Anubhawa Sasana Desa. Piagam tersebut biasanya diserahkan Menkumham Patrialis Akbar.

Peraih gelar doktor ilmu pemerintahan dari Universitas Padjadjaran (2010) ini menuturkan, tidak mudah menetapkan suatu desa menjadi desa sadar hukum. Persyaratannya, di desa itu tidak ada pernikahan di bawah umur, pelunasan pembayaran PBB setiap tahun di atas 90 persen, tingkat kriminalitas dan narkoba kecil. "Dan, di desa itu sudah terbentuk keluarga sadar hukum (kadarkum)," kata pemilik dua gelar sarjana (S-1) dari STIA LAN dan dari Fakultas Hukum Universitas Widyagama ini.

Istri dari Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang ini pernah menduduki sejumlah jabatan di Kemenkumham. Sebentar lagi, Susy akan pindah ke Yogyakarta sebagai Kakanwil Kemenkumham.

Peraih gelar magister hukum dari Universitas Indonesia (UI) ini dikenal akrab dengan stafnya. Dia pun tidak pernah canggung berkeliling ke sudut-sudut kota dan desa melakukan penyuluhan dan sosialisasi hukum dengan mobil keliling penyuluhan hukum. Wanita berparas ayu ini jadilah dewi penyuluhan hukum.

sumber: suarakarya-online.com, Kamis, 5 Mei 2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Friday, April 29, 2011

Duet Ariel dan Walikota Bekasi Pukau Tahanan Rutan Kebonwaru

Bandung
Ada pemandangan langka saat kegiatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-47 di Rutan Kebonwaru, Jalan Jakarta, Kota Bandung, Kamis (28/4/2011). Ariel 'Peterpan' dan Walikota Bekasi Mochtar Muhammad nyanyi bareng.

Aksi dua pria berbeda profesi yang saat ini mendekam disel Rutan Kebonwaru itu memukau ratusan tahanan dan warga binaan di rutan tersebut serta tamu undangan lainnya.

Ariel dan Mochtar menyanyikan satu lagu berjudul 'Perih'. Lagu beraliran pop itu hasil karya Mochtar.

Ariel yang menggunakan topi merah serta kaus hitam dan celana jeans telur asin didaulat membuka intro lagu tersebut. Musik diiring Delilah Band yang empat personelnya wanita semua.

Separuh lagu berjalan, Mochtar yang memakai kemeja pendek putih itu mengambil pengeras suara dan turut melantukan lagu ciptaannya. Sesekali mata Ariel dan Mochtar melirik syair lagu di sebuah tablet PC yang terpajang di tiang khusus. Tablet PC itu merupakan milik Mochtar.

"Tuhan ku sanggup lagi....," petik Ariel dan Mochtar saat melantukan reff lagu itu.

Luna Maya yang duduk di deretan depan terlihat terus menjepretkan kamera ponselnya saat Ariel berada di atas panggung berkolaborasi dengan Mochtar. Sementara ratusan tahanan bertepuk tangan serentak usai lagu tersebut tuntas.

"Lagu ini saya ciptakan di sini (Rutan Kebonwaru). Proses bikinnya dua hari," ujar Mochtar setelah turun dari panggung sambil menenteng tablet PC. Adanya kegiatan ini, jam besuk bagi keluarga tahanan ditiadakan.

sumber: detik.com, Kamis, 28/04/2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Wednesday, April 27, 2011

Camelia Malik dan Henky Tornando Kunjungi Lapas Sukamiskin

Bandung
Ratusan napi wanita di Lapas Sukamiskin Bandung berebut tempat untuk melihat sejumlah artis ibukota yang menghibur mereka, Rabu (28/4).

Kedatangan para atis ke Lapas itu tiada lain untuk menghibur mereka berkakitan dengan peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan. ”Kami sangat senang bisa menghibur mereka. Diharapkan kaum wanita yang kini sedang menjalani hukuman tetap bisa tegar,” kata artis senior Camelia Malik.

Hal sama diturturkan Hengky Tornando. Dia mengaku sangat merasakan bagaimana kondisi mereka dalam Lapas dalam menjalankan hukumannya.

Hengky mengungkapkan hal tadi lantaran dia mengaku sempat mencicipi bagaimana hidup di Lapas saat terjerat kasus nakoba. ”Lapas merupakan sekolah terbaik. Di sini para napi bisa dibina sekaligus bertobat,” katanya.

Karena itu, dia berharap supaya napi yang ada di Lapas bisa memanfaatkan momen ini untuk bertobat. ”Kami mendoakan semoga para artis yang ada di Lapas ini menjadi orang mulia,” tuturnya.

Kepala Lapas Wanita Sukamiskin, Christina Sri Widiyastuti, mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik dengan berkunjungnya sejumlah artis ibukota ke Lapas.

“Paling tidak mereka akan semngat kembali dalam menjalankan hidupnya. Mereka selain bisa terhibur juga percaya dirinya akan tumbuh kembali.”

Napi wanita nampaknya tak menyia-nyiakan kesempatan saat sejumlah artis mengunjungi Lapas. Mereka pun kompak berdiri kemudian berjoget ria bersama para artis.

”Wah, kalau artis itu datang sebulan sekali kami bisa senang dan terhibur,” komentar napi.

sumber: poskota.co.id, Rabu, 27 April 2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Wednesday, March 9, 2011

Marwan Adli Berjanji Kooperatif

Cilacap
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Nusakambangan Marwan Adli menyatakan siap kooperatif selama diperiksa petugas Badan Narkotika Nasional terkait kasus dugaan keterlibatan dalam peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang di LP itu. "Saya akan kooperatif dan mengikuti prosedur," kata Marwan di sela pemeriksaan oleh BNN di salah satu hotel di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (9/3).

Disinggung mengenai kasus dugaan menerima aliran dana peredaran narkotika yang ditujukan kepadanya, dia enggan berkomentar banyak. "Maaf saya belum bisa sampaikan karena hingga saat ini saya belum diperiksa. Saya akan tetap ikuti prosedur pemeriksaan," katanya.

Sebelumnya, Marwan mengaku memiliki rencana kegiatan untuk mengungkap kasus peredaran narkoba di LP yang dipimpinnya. Pihaknya berencana mendatangkan anjing pelacak untuk melacak kemungkinan adanya narkoba di dalam LP Narkotika Nusakambangan.

Rencana tersebut, katanya, telah diajukan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Tengah serta Direktur Narkoba Polda Jateng. "Rencananya minggu ini anjing pelacak tersebut datang. Namun ternyata malah seperti ini," katanya.

BNN menangkap Marwan Adli bersama dua stafnya yakni Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan Iwan Syaefuddin dan Kepala Seksi Bina Pendidikan Fob Budhiyono, pada Selasa sore. Mereka ditangkap karena diduga terlibat dalam perdagangan narkotika di dalam LP. Hingga Rabu siang, ketiga pegawai LP tersebut masih menjalani pemeriksaan di salah satu hotel di Cilacap.

Selain itu, BNN juga menangkap seorang narapidana LP tersebut, Hartoni, yang diduga menjadi bagian dari jaringan perdagangan narkotika tersebut. Hartoni saat ini masih menjalani pemeriksaan di Markas Polres Cilacap. Marwan Adli bersama petugas lapas lainnya diduga menerima aliran dana dari Hartoni yang merupakan uang hasil penjualan narkotika.

sumber: liputan6.com, Rabu, 09/03/2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Saturday, February 26, 2011

Dulu takut, sekarang Eda dan Endah mengagumi kerajinan buatan para napi

Jakarta
Keahlian Haneda Ananta membuat kerajinan tangan berupa barang jahitan dan sulaman telah membawa banyak berkah. Ia pun membawa berkah bagi ibu rumah tangga di sekitar rumahnya dan para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Ia melatih narapidana membuat aneka kerajinan. Produk buatan mereka lalu dia jual di Caremommies.

Haneda Ananta mendapat tawaran melatih para narapidana alias napi di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang ketika pada 2010 salah satu petugas penjara di kawasan Jakarta Timur itu memintanya.

Petugas itu meminta Eda, panggilan akrab Haneda Ananta, mengisi kelas di Bengkel Bina Kerja LP Cipinang dengan memberi pelatihan soal teknik menyulam, menjahit, serta membuat kerajinan tangan.

Eda bersama Endah Sutjihati yang juga pendiri Caremommies langsung merespon positif tawaran itu. Eda dan Endah memberikan pelatihan kepada para napi pria di LP Cipinang selama dua hari berturut-turut.

Awalnya, Eda mengaku kesulitan untuk berbaur dengan para napi. Bahkan, ketika pertama kali memberikan pelatihan, sarjana Komunikasi Visual ini mengaku canggung dan takut menghadapi para muridnya. "Mungkin karena napi sering dicap sebagai orang jahat, jadi saya sempat merasa takut," ujarnya.

Namun, perasaan waswas Eda mulai luntur seiring dengan sikap para napi di LP Cipinang yang memperlakukannya seperti seorang guru. "Mereka terlihat sungkan, hormat, dan sungguh-sungguh belajar. Saya pun akhirnya menggunakan cara persuasif dengan memperlakukan mereka sebagai teman," ungkap dia.

Cara ini berhasil. Komunikasi Eda dan para napi terbilang baik. Pelatihan di LP Cipinang dilakukannya sebanyak dua kali. Pertama di bulan Juni dan Juli 2010. Pelatihan kedua digelarnya selama lima hari untuk menjaring produk-produk yang dihasilkan para napi.

Produk seperti tas, kaos dengan motif kain perca, bed cover, bantal nama, tempat tisu, hingga sarung bantal, tercipta dari tangan para napi. "Saya kaget melihat hasil jahitan mereka lebih rapi, halus, dan motifnya unik-unik dibandingkan dengan para pekerja saya di rumah," kata Eda.

Karya unik dari para napi binaannya membuat Eda tertarik untuk menjual karya mereka di Caremommies. Alhasil, banyak pelanggan membeli bermacam produk kerajinan bikinan napi. Hampir setahun ini, tiap pekan, Eda selalu mengambil kerajinan buatan para napi di LP Cipinang.

Tidak hanya mengambil barang, Eda juga mengontrol pekerjaan para napi dan memberi motif baru sesuai pesanan pelanggan. Meski tidak memberikan kelas tambahan, Eda bilang, para napi kian mahir membuat aneka kerajinan. "Mereka bahkan terang-terangan mengaku ketika keluar nanti akan mencoba usaha kerajinan," ujarnya.

Para napi telah kehilangan pekerjaan setelah masuk bui. Sementara, usaha itu bisa dijalani dengan modal mini. Tentu, ini menjadi peluang usaha yang cukup bagus untuk para napi. "Mereka telah memiliki keterampilan, tinggal dikembangkan jadi usaha," tutur Eda.

Eda sebelumnya juga telah melatih ibu rumahtangga di sekitar rumahnya di kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ia merasakan perbedaan besar melatih para ibu rumah tangga dengan napi. Menurut ibu dua putri ini, meski lebih mudah mengajar ibu rumah tangga, kualitas kerajinan yang dihasilkan para napi lebih bagus.

Menurut Eda, para napi tidak terorientasi dengan uang sehingga mereka lebih santai mengerjakannya dan tidak diburu-buru waktu. Meski begitu, terkadang Eda sering berdebat soal motif. Ini karena para napi acap membuat motif yang tidak sesuai dengan pesanan pelanggan. "Kadang ada juga yang suka bandel dengan tidak menggunakan motif yang sesuai dengan pesanan," jelas Eda.

Untuk menghadapi kendala-kendala seperti ini, Eda bersikap tegas dengan meminta para napi untuk bekerja sesuai dengan aturan yang telah ia tetapkan. Hingga kini, Eda melatih dan menampung hasil karya 20 napi di LP Cipinang.

Bahkan, saat ini, Eda tengah mempersiapkan bahan pameran bazar di kampus Universitas Indonesia Salemba bulan depan. Ia akan memamerkan dan menjual barang kerajinan bikinan para napi.

Eda pun berencana melatih teknik menyulam untuk istri para narapidana. Ide ini muncul setelah para napi didikannya yang telah beristri meminta tolong melatih mereka. "Kami berharap mereka dapat menjadikan kerajinan tangan ini sebagai penopang kehidupan keluarga," ujar Eda.

Tidak hanya para napi, Eda juga masih membina dan mempekerjakan 15 ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Ibu-ibu ini mengerjakan pesanan yang datang ke Caremommies.

Ibu rumah tangga yang bekerja di tempat Eda banyak datang dari kelas ekonomi bawah, walau ada juga yang berasal dari keluarga berkecukupan. "Ada yang mencari nafkah dan ada juga yang hanya memanfaatkan waktu kosong," papar Eda. Ia mempersilakan siapa pun belajar asal punya niat sungguh-sungguh.

Sekarang, bisnis online Caremommies yang dibangun Eda dan Endah terus tumbuh. Meski banyak produk sejenis, Eda yakin Caremommies memiliki kelebihan pada pengerjaan dengan bordir. Produk Caremommies mempunyai kehalusan, detil, dan keluwesan pengerjaan tangan.

Eda mampu menjual 30 hingga 100 produk mulai harga Rp 10.000 sampai Rp 2,5 juta dengan omzet hingga 25 juta per bulan. Meski tetap akan mengembangkan bisnis online, wanita berjilbab ini juga tidak akan meninggalkan kegiatan pelatihan. "Saya merasa jadi manusia yang lebih bermanfaat dengan memberikan ilmu kepada sesama," tutur Eda.

sumber: kontan.co.id, Jumat, 25 Februari 2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Friday, January 7, 2011

Gayus Lumbuun: Anggaran Lapas Harus Ditambah

Jakarta
Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Gayus Lumbuun, menilai anggaran untuk lembaga permasyarakatan wajib ditambah. Ini sebagai salah satu solusi dari banyaknya masalah ketidakberesan manajemen penjara yang akhir-akhir ini muncul.

“Bagi saya, sumber masalahnya di sini: anggaran. Wajib ada penambahan anggaran untuk lapas. Anggaran itu harus cukup agar kasus Gayus Tambunan dan joki napi tidak terulang,” kata politisi PDIP itu saat dihubungi, Kamis (6/1).

Minggu ini, terdakwa mafia pajak dan peradilan Gayus Tambunan kembali menggegerkan masyarakat. Terdakwa kasus mafia pajak itu diduga sempat bepergian ke Makau, Cina, dan Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir September 2010. Padahal saat itu, Gayus seharusnya ada di rumah tahanan Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok.

Adapun di Bojonegoro, Jawa Timur, Kasiem, seorang terpidana, diketahui menyuap Karni, tetangganya, untuk menggantikannya sebagai penghuni sel di Lapas Bojonegoro. Aksi Kasiem terbongkar pada hari keempatnya menghirup udara bebas.

Gayus menyebut, kasus Gayus Tambunan dan Kasiem bisa terjadi karena manajemen rutan punya banyak kelemahan, terutama dalam hal sumber daya manusianya. Selain itu juga soal rendahnya disiplin seperti menerima suap dari pihak eksternal.

“Kita harus melihat, ada pihak-pihak eksternal yang mengintervensi dan ikut serta mengatur keluar-masuknya tahanan, dengan berusaha menyuap. Ini indikasi anggaran lapas masih kurang,” ujarnya.

Ia menyesalkan mengapa aparat sampai lengah sehingga Gayus bisa plesiran dan terjadi joki tahanan seperti dilakukan Kasiem. Padahal, penjara adalah tahap terakhir penegakan hukum. Kata Gayus Lumbuun, percuma polisi sudah bekerja, jaksa sudah menuntut, hakim sudah memvonis, tapi ujung-ujungnya terpidananya bebas. “Nggak ada gunanya dong, dia dihukum?” katanya.

sumber: tempointeraktif.com, Kamis, 06 Januari 2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Wednesday, January 5, 2011

Kasiyem si Jurangan Pupuk

Bojonegoro
"Yang seperti saya banyak, kenapa hanya saya yang harus masuk penjara," kata Kasiyem, 55 tahun, warga Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jawa Timur, adalah pedagang beras yang sering mengirimkan beras ke Bali.

Ia menjadi buah pemberitaan setelah ketahuan menggunakan jasa Karni sebagai "joki" yang menggantikannya di penjara. Hingga hari ini, Kasiyem terus bersuara menuntut keadilan.

Kasiyem adalah pedagang besar di Bojonegoro. Saat terjadi kelangkaan pupuk, ia memanfaatkan kesempatan meskipun mengaku tidak memiliki Delivery Order (DO). Ia hanya membaca berita di media massa, yang menyebut Bupati Bojonegoro Suyoto pernah menyatakan, pupuk luar boleh masuk ke Bojonegoro dan yang dilarang adalah membawa keluar pupuk dari Bojonegoro.
"Saya ini membeli pupuk dengan uang hasil utangan, tidak mencuri," kata Kasiyem di Lapas Bojonegoro.

Menurut pengakuannya, pada tahun 2009 itu dirinya membeli berbagai macam jenis pupuk mulai Urea, ZK, juga pupuk produksi Kaltim di Bali. Ini karena secara rutin kendaraannya mengirimkan beras ke Bali. Ia mengaku telah mengeluarkan uang sedikitnya Rp 100 juta.

Dagang pupuk inilah yang menyeretnya ke pengadilan pidana hingga ke tingkat kasasi karena dianggap memperjualbelikan pupuk bersubsidi untuk keuntungan pribadi. Mahkamah Agung menetapkan Kasiyem, harus menjalani hukuman penjara tiga bulan 15 hari.

Menghadapi masalah itu, Katiyem mengeluhkan permasalahannya tersebut ke berbagai pihak tak terkecuali disampaikan dalam dialog Jumat di Pendopo Pemkab Bojonegoro. Kasiyem mengaku, tidak terima kalau harus menjalani hukuman penjara. Dia bilang pedagang pupuk seperti dirinya cukup banyak di Bojonegoro tapi hanya dia yang masuk penjara.

Lalu dicarilah seseorang yang bisa membantunya. Katiyem akhirnya bertemulah dengan seorang pengacara bernama Hasnomo.

Kasiyem mengungkap, dalam perjanjian itu, Hasnomo sanggup menolong dirinya agar tidak masuk penjara dengan memberi imbalan uang Rp 22 juta. "Bagaimana caranya saya tidak tahu," ujarnya.

Diri mengaku menandatangani berita acara eksekusi di Kantor Kejaksaan Negeri Bojonegoro, tepatnya pada tanggal 27 Desember 2010.

Hanya saja, ketika di depan lapas, dirinya yang semobil dengan staf Kejari Bojonegoro, Widodo Priyono, tidak masuk ke lapas. Sebab, Hasnomo sudah membawa joki napi Karni (51), warga Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, yang memperoleh imbalan uang Rp 10 juta dari Hasnomo.

Hasnomo menemukan Karni lewat seorang perantara yang bernama Angga. "Saya tahu itu keliru," ucapnya. Karnipun masuk sel di lapas, setelah menjalani registrasi, dengan cap jempol, bukan tanda tangan.

Masuknya joki napi Karni tersebut, terungkap pada tanggal 31 Desember 2010, ketika ada seseorang yang menjenguk dan mengetahui Karni ternyata bukan Kasiyem.

sumber: republika.co.id, Rabu, 05 Januari 2011

BACA SELENGKAPNYA......................

Wednesday, June 23, 2010

Ditanya Soal Ariel, Menkum HAM Pilih No Comment

Bandung
Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar enggan berkomentar terkait ditetapkannya Ariel sebagai tersangka. Namun ia berharap penyebar luas video porno itu dapat dihukum seberat-beratnya.

"Soal status Ariel saya no comment. Tapi saya menyesalkan yang menyebarluaskan video itu, penyebar harus dihukum berat," ujar Patrialis, saat ditemui di Gedung Sate usai Penandatangan Bersama Tentang Sinkronisasi Ketatalaksanaan Sistem Peradilan Pidana Dalam Mewujudkan Penegakkan Hukum yang Berkeadilan antara Pengadilan Tinggi Jabar, Kementrian Hukum dan HAM Jabar, Kejaksaan Tinggi Jabar dan juga Polda Jabar, Selasa (22/6/2010).

Saat disinggung bagaimana proses penanganan kasus Ariel, Patrialis hanya menjawab "Soal penanganan, polisi yang lebih tahu," katanya.

Ariel resmi menjadi tersangka kasus video porno mirip dirinya. Namun, sampai saat ini, polisi belum bisa menemukan penyebar pertama video porno tersebut. Polisi juga sudah mengantongi enam nama yang diduga sebagai penyebar video porno mirip Ariel dan Luna. Dari keenam orang tersebut, menurut polisi, ada yang merupakan teman dekat pasangan selebritis itu.


source: bandung.detik.com Selasa, 22/06/2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Saturday, June 12, 2010

Pembinaan Tahanan Di Lapas Dimulai Dari Minus

Jakarta
Perbedaan dalam pembinaan tahanan dengan cara pendidikan formal membuat Direktorat Pemasyarakatan masih harus mencari solusi terbaik. Hal ini diperlukan agar setelah keluar dari lembaga permasyaratan, tahanan dapat beradaptasi lagi dengan lingkungannya.

"Pendidikan terhadap narapidana beda dengan siswa, kalau siswa startnya dari nol, kalau narapidana dimulai dari minus," ujar Direktur Bina Regitrasi dan Statistik Ditjen Pemasyarakatan, Rahmat Prio Sutarjo dalam bedah buku 'Penjara: The Untold Stories' di Universitas Paramadina, Kamis (10/06/2010).

Rahmat mengatakan dalam sistem penjara, tahanan mendapatkan reintegrasi sosial sehingga bisa beradaptasi dengan masyarakat. Dalam konsep lembaga permasyarakatan, tahanan secara fisik diasingkan namun secara kultural tidak.

Dalam sistem penjara,kata Rahmat, terdapat empat kesakitan yang melekat kepada tahanan bila dipenjara yakni hilangnya rasa aman, hilangnya otonomi, hilangnya benda-benda yang disukai serta hilangnya rasa sosial terutama kepada lawan jenis.

"Inilah sisi negatif dari orang-orang yang terpenjara, dan semakin cepat reintregasi dilakukan, maka adaptasi ke masyarakat semakin baik," tandasnya.

sumber dari tribunjabar.co.id Kamis, 10 Juni 2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Sunday, May 16, 2010

Tokoh Organisasi Papua Merdeka Kembali Jadi WNI

Jayapura
Tokoh pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Nicholas Jouwe, kembali menjadi warga negara Indonesia setelah menetap selama 40 tahun di Belanda.

"Ini sebuah sejarah yang luar biasa seorang mantan tokoh OPM kembali kepada Pangkuan Ibu Pertiwi setelah menetap di negara orang lain selama 40 tahun," kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Patrialis Akbar, saat memberikan penghargaan kepada Nicoolas Jouwe di Jayapura, Papua, Sabtu.

Patrialis mengatakan pihak pemerintah Indonesia memberikan penghargaan dan Surat Keputusan (SK) Nomor : M.HH-03.AH.10.01 Tahun 2010 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia atas Nama Nicolaas Jouwe.

Menkumham menyatakan bahwa penghargaan dan SK Kewarganegaraan kepada Nicoolas merupakan proses perjalanan sejarah dengan pertimbangan khusus untuk kepentingan negara dan bangsa.

Politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN) itu menambahkan langkah Nicoolas menjadi WNI sebagai contoh dan teladan, khusus bagi masyarakat Papua yang berada di luar negeri, agar mereka kembali ke Indonesia.

"Sebaiknya keputusan itu harus ikuti masyarakat Papua yang menetap di luar negeri untuk membangun Tanah Papua," ujarnya.

Berdasarkan catatan Kemenkumham, terdapat lima kategori untuk menjadi WNI, yakni proses naturalisasi sebanyak 710 orang, menikah secara sah (233 orang), pasangan warga negara asing dengan WNI sebelum 17 Agustus (10.577 orang), orang kehilangan status kewarganegaraan yang kembali jadi WNI (4.256 orang), dan pemukim keturunan yang sudah turun menurun menjadi WNI (3.654 orang).

Sementara itu, Nicoolas menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan pihak Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda yang berperan aktif mengupayakan dirinya kembali berstatus sebagai WNI.

"Keinginan kembali ke Papua sudah lama timbul saat usia saya 24 tahun. Namun, hal itu terealisasi setelah mendapat bantuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kedubes Indonesia di Belanda," ucap pria kelahiran Kajoe Poeloe, 24 November 1923 itu.

Nicoolas menjelaskan awal menetap di Belanda berawal saat dirinya mendapat perintah khusus dari pemerintah Belanda pada program pembangunan nasional untuk Papua.

"Saat itu saya mendapatkan perintah khusus dan informasi bahwa Papua bukan orang Indonesia," ujarnya.

Nicoolas menuturkan dirinya setelah menelusuri sejarahnya ternyata saat Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Papua sudah masuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, pihak Belanda ingin memisahkan Papua dari Indonesia karena terdapat emas, perak, minyak, dan gas.

Akan tetapi, kata dia, rencana itu gagal. Kemudian pada 1 Mei 1963, Papua Barat diserahkan kepada Indonesia melalui sebuah perjanjian internasional.

Namun, pada sisi lain Indonesia dipaksa untuk mengadakan sidang umum pada tahun 1969 agar memberikan opsi bagi Papua Barat untuk keluar atau masuk Indonesia. "Pada saat itulah saya menetap di luar negeri," tuturnya.

Padahal, menurut Nicoolas, tidak undang-undang internasional yang membenarkan keinginan OPM untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu, Ketua Delegasi Kepulangan Nicholas Jowe, Febiola Jowe, mengatakan kembalinya Nicoolas ke tanah air setelah Presiden SBY menemui dirinya. "Beliau mengatakan apa yang bisa dilakukan untuk Nicoolas demi kemajuan Papua," ujarnya.

"Saat itu saya berkata kembalikan Nicoolas Jouwe ke Indonesia sesuai surat yang pernah diajukannya," ucap Febiola.

Akhirnya Nicoolas memutuskan Faebiola untuk mengurus kepulangannya ke Indonesia dengan membentuk tim delegasi hingga mantan tokoh OPM itu kembali ke Papua agar tidak terjadi konflik.

sumber: antara.co.id Sabtu, 15 Mei 2010

BACA SELENGKAPNYA......................

Saturday, May 1, 2010

Purwo Ardoko, Alumnus ITS, Arsitek Penjara Modern di Indonesia

SALAH satu orang penting dalam pembangunan Rutan Khusus Tipikor di Cipinang, Jakarta, yang diresmikan Selasa lalu (27/4) adalah Purwo Ardoko. Dialah arsitek rutan tersebut. Purwo memang "spesialis" perancang bangunan penjara. Termasuk, penjara supermaximum security.




Jakarta
Site plan Rutan (rumah tahanan) Cipinang dan buku tebal Building Type Basics for Justice Facilities serta setumpuk dokumen lain ada dalam dekapan Purwo Ardoko. "Saya baru mendampingi Pak Menteri (Menkum HAM Patrialis Akbar, Red) wawancara dengan TV," kata Purwo yang ditemui di salah satu kafe di kawasan Tebet, Jakarta, Kamis lalu.

Topik perbincangan di TV itu adalah Rutan Klas I Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di komlpleks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta, yang baru saja diresmikan. Ini hunian baru bagi para koruptor yang berstatus terpidana, terdakwa, maupun yang masih tahanan.

Purwo memang salah seorang aktor penting di balik pembangunan rutan tersebut. Pria kelahiran Jombang itulah yang mengarsiteki pembangunan blok khusus penjahat kerah putih (white collar crime) itu. Penjara yang terdiri atas tiga lantai dan mampu menampung 256 orang.

Lantai 1 berkapasitas 16 kamar. Sel-sel berukuran 3 x 6 meter itu disiapkan untuk tahanan yang sudah uzur (lanjut usia) atau sakit. Karena itu, satu sel hanya dihuni satu orang. Di lantai 2 dan 3 masing-masing terdapat 24 kamar berukuran 7 x 5 meter. Setiap kamar diproyeksikan untuk lima tahanan.

Seluruh kamar dilengkapi fasilitas sebuah kloset. Di setiap selasar di tiap lantai dipasang kamera CCTV (closed circuit television). Sedikitnya, di tiap blok ada lima kamera CCTV, di antaranya ditempatkan di ruang petugas dan tempat kunjungan. "Ini sudah sesuai dengan standar internasional," kata Purwo.

Rutan Tipikor itu, jelas alumnus Teknik Sipil ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya itu, merupakan salah satu di antara sembilan lapas dan rutan percontohan. Yakni, Lapas Pasir Putih Nusakambangan yang berkategori supermaximum security, Lapas Narkotika Jogjakarta, Lapas Tanjung Gusta Medan, dan Lapas Barelang Batam.

Kemudian, Rutan dan Lapas Salemba, serta tiga di Cipinang. Yakni, lapas khusus narkotika, lapas umum, dan Rutan Tipikor. "Di Medan dan Batam saya jadi advisor-nya," terang Purwo. Dia juga ikut berperan dalam pembangunan maupun renovasi tujuh penjara lain.

Purwo menuturkan, menjadi tenaga ahli independen seperti sekarang sebetulnya tidak direncanakan. Setelah lulus kuliah pada 1986, Purwo ke Jakarta. Dia bergabung dengan salah satu konsultan mengerjakan draft untuk Lapas Wanita Tangerang. "Waktu itu, satu lembar dihargai Rp 15 ribu," kenangnya.

Ayah tiga anak itu kemudian menjadi pegawai honorer di Departemen PU (Pekerjaan Umum). Namun, hanya bertahan dua tahun. Dia keluar pada 1990. Lalu meloncat jadi tenaga ahli dalam pembangunan kompleks Departemen Keuangan dan fasilitas-fasilitas sosial. Pada 1995, Purwo mulai masuk pada pengembangan rumah susun.

Namun, krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997?1998 membuat pengembangan properti berhenti. "Tahun-tahun itu saya sempat jadi penjual semir rambut," kata Purwo mengenang. Baru pada 1999, Purwo melanjutkan lagi proyek rusunnya. Salah satunya di kawasan Petamburan, Jakarta.

Sesudah merampungkan rusun itu, dia mendapatkan tawaran dari seorang teman untuk pembangunan penjara modern. "Kata teman saya, Departemen Kehakiman butuh sketsa untuk penjara modern," paparnya. Merasa mendapat tantangan dan penasaran, dia menerimanya. "Siapa tahu ini bisa jadi modal saya untuk melanjutkan S-2," katanya.

Mula-mula dia mempelajari visi dan misi Depkeh soal lapas dan rutan. Lalu melakukan survei lapangan. "Saya nginap tiga hari di Cipinang, ikut jadi napi," tuturnya lantas tersenyum. Di penjara itu dia memperhatikan kultur dan kebiasaan penghuninya, warga binaan maupun petugas. "Bagaimana tahanan ditawari kamar-kamar yang bagus asal ada uang, saya jadi tahu," ungkapnya.

Di lapas dia menemukan cara hidup berkelompok atau geng-gengan. Karena Purwo asal Jombang, dia "dikuasai" geng Surabaya. Selama tiga hari itu, Purwo harus merogoh kocek Rp 75 ribu. "Diberikan sama pimpinannya," katanya. "Saya tidak dapat alas tidur. Alasnya dari koran, itu pun beli. Bantalnya dari baju dilipat-lipat," lanjutnya.

Selain survei ke Cipinang, dia juga minta waktu untuk mendalami Rutan Salemba dan Lapas Sukamiskin, Bandung, serta mempelajari sejumlah penjara di luar negeri. Yakni, di Malaysia, Hongkong, Singapura, Tiongkok, dan Thailand. Perilaku tahanan di tiap-tiap negara itu menjadi salah satu risetnya. "Dibandingkan dengan luar (negeri), kita kalah fasilitas dan jumlah pegawai, tapi menang dalam sistem," beber pria 48 tahun itu.

Dia sempat kesulitan mendapatkan buku-buku arsitek tentang penjara. Satu buku yang didapatnya dinilai tidak lagi sesuai karena terbitan tahun 70-an. Akhirnya, dia mendapatkan buku Building Type Basics for Justice Facilities itu di Singapura. "Lalu, saya susun plan untuk di Indonesia," katanya. Prinsipnya, biaya murah, pemeliharaan dan pengoperasian mudah. "Sifatnya low teknologi," imbuhnya.

Yang pertama digarap adalah Lapas Narkotika Cipinang. Pembangunannya memakan waktu 2,5 tahun dan peresmiannya dilakukan pada 2003 oleh Megawati, presiden saat itu.

Perencanaan penjara tersebut, papar Purwo, mengacu pada Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners yang sudah menjadi bagian dari resolusi PBB tahun 1977. Beberapa hal yang diakomodasi dalam perencanaan itu adalah ukuran ruang, cahaya, dan sanitasi.

Purwo mencontohkan ketentuan minimal 5,4 meter persegi perorang sebagai ruang gerak. Mulai tidur, bangun, dan beraktivtas. "Ruang gerak ini memang terbatas. Sebab, sebagai tahanan, ada sebagian haknya yang dirampas. Misalnya, bertemu keluarga yang tidak dilakukan di situ," katanya.

Tinggi minimal 4 meter memungkinkan penghuni untuk memperoleh sirkulasi udara cukup. Kemudian, bukaan atau ventilasi sebesar 20 persen dari luas permukaan. Untuk sanitasi, disediakan peturasan, yakni kloset plus bak kecil untuk keperluan di malam hari. Dindingnya di lapis dengan cat antikimia dan antijamur untuk menghindari bahan-bahan sulfat yang bisa mengakibatkan tergerus.

Dinding terluar dikonstruksikan tahan benturan dengan kekuatan 2 ton per titik. "Dengan demikian, diperlukan 10 orang untuk menghancurkannya," jelas Purwo. Dinding tersebut dibuat dari beton bertulang yang dicor dengan ketebalan 20 sentimeter. Bahan-bahannya harus trouble free. Jerujinya besi pilihan, diameter 20 milimeter. "Butuh waktu satu jam tanpa berhenti untuk menggergajinya," imbuhnya.

Faktor keamanan memang menjadi bagian penting dalam bangunan lapas. Meliputi pagar pengaman (deterrence); pos pengamanan, menara, dan ruang kontrol (detect); penataan pintu, dan penghambatan akses antarruang (delay). Kemudian, steril area serta meminimalkan upaya pelarian. Pagar pengamannya dibuat empat lapis di luar gedung.

Dengan aristektur semacam itu, kata Purwo, jika ada tahanan yang berhasil kabur, bisa dipastikan ada kerja sama dengan petugas petugas. "Kabur bukan karena bangunannya, tapi karena sistem atau petugas yang tidak disiplin."

Sebagai arsitek, Purwo tidak banyak berkreasi dalam membangun lapas. Namun, dia bisa memasukkan unsur estetika (keindahan) melalui permainan jarak, skala, warna, dan tekstur. "Kalau bentuknya, nggak bisa main (berkreasi, Red) karena simpel," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, sifat penjara di Indonesia bukan menghukum, tapi mengoreksi. Dengan demikian, aspek mental, spiritual, kesehatan, dan sosial tahanan tetap diperhatikan. Dia lantas mengutip ucapan Dr Saharjo, yang mencetuskan istilah pemasyarakatan. Mereka bukan penjahat, tapi orang yang tersesat, yang belum terlambat untuk bertobat.

Negara, kata dia, tidak punya hak untuk membuat orang-orang lebih buruk daripada sebelum masuk penjara. "Jadi, bukan hanya bangunannya yang bagus, pola dan sistem pengelolaan penjara itu harus pas," kata Purwo yang juga konsultan pembangunan salah satu gedung di Mahkamah Agung.

Misalnya, pengaturan jumlah tahanan dalam satu kamar harus ganjil, 1, 3, 5, atau 7. "Mengapa tidak dua" Itu untuk antisipasi resistansi terjadinya disorientasi mental, seperti homoseksual," paparnya. Pembagiannya juga dipilih dengan memperhatikan latar belakang jenis perbuatan dan kecocokan.

Sejauh ini tidak ada problem di lapas dan rutan percontohan tersebut. Kecuali masalah sanitasi. "Tapi, itu lebih karena faktor overcapacity, bukan masalah bangunannya," jelasnya.

Meski telah berhasil membuat perencanaan dan sketsa penjara model, Purwo belum sempat melanjutkan studi S-2nya. Padahal, dia menerima tawaran itu karena ingin melanjutkan kuliah. "Ya nggak jadi. Waktuku entek (habis, Red). Selesai di sini, diminta (menggarap) di sana," katanya, lantas tertawa.

Namun, Purwo mengaku itu bukan masalah. Sebab, obsesinya untuk membantu sesama sudah tersalurkan. "Yang penting, ide-ide saya dipakai," ujar Purwo yang kini menjadi ketua Forum Tenaga Ahli Bangunan Pemasyarakatan. "Saya dipilih secara aklamasi. Saat ini sudah ada di sepuluh provinsi," katanya.

sumber: www.jpnn.com Sabtu, 01 Mei 2010

BACA SELENGKAPNYA......................